Ruang Baca

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Al-Qur’an adalah kalam Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril as yang diturunkan secara mutawattir hingga sampai kepada seluruh umat manusia saat ini. Al-Qur’an adalah mu’jizat yang diberikan Allah SWT kepada nabi-Nya. Al-Qur’an diturunkan dalam kurun waktu 23 tahun. Dengan surat Al-Alaq sebagai surat yang pertama turun. Al-Qur’an memuat 30 juz, 114 surah, dan 6236 ayat.
Persoalan mengetahui ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah sangat erat hubungannya dengan kemampuan seseorang dalam menterjemahkan dan menafsirkan Al-Qur’an. Pengetahuan di bidang ini membantu kita bagaimana memahami makna dan kandungan sebuah ayat, sebab antara ayat yang turun di Mekkah dann ayat-ayat yang turun di Madinah mempunyai ciri khas masing-masing.
Pada makalah ini kami hanya khusus membahas mengenai ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah yang merupakan ayat yang diturunkan secara berbeda dan pada waktu yang berbeda pula. Dengan mengetahui karakteristik ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah diharapkan dapat mengetahui asbabun nuzul atau proses turunnya ayat tersebut serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.
B. Rumusan Masalah
Dari pemaparan di atas dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut:
- Apa pengertian Makkiyah dan Madaniyah?
- Bagaimana ciri-ciri Makkiyah dan Madaniyah?
- Bagaimana cara mengetahui dan menetapkan ayat Makkiyah atau Madaniyah?
- Apa faedah mengetahui Makkiyah dan Madaniyah?



BAB II
MAKKIYAH DAN MADANIYAH

A. Pengertian Makkiyah
Surat/Ayat Makkiyah adalah segala ayat yang diturunkan di Mekkah, termasuk di daerah-daerah sekitar Mekkah seperti Arafah, Hudaibiah, dan lain-lain. Makkiyah juga segala ayat yang turun sebelum Rasulullah hijrah, sekalipun turunnya di Madinah. Selain itu, bentuk ayat Makkiyah berisi pembicaraan tentang penduduk Mekkah dan sekitarnya.

B. Ciri – ciri Makkiyah
Adapun ciri-ciri dari surah Makkiyah ialah:
• Setiap ayat yang dimulai dengan seruan ايها النا س يا (hai manusia) adalah Makkiyah, kecuali dalam surat Al-Haj;
• Setiap surat yang dimulai dengan huruf potong adalah Makkiyah, kecuali surat Al-Baqarah dan Ali-Imran;
• Setiap surah yang memuat kkisah nabi Adam dan Iblis adalah Makkiyah, kecuali kisah nabi Adam yang terdapat dalam surah Al-Baqarah;
• Setiap surat yang menyebutkan masalah atau kisah-kisah ummat dahulu kalapada umumnya Makkiyah, ditammbah azab atau siksaan Allah kepada mereka;
• Suratnya pendek-pendek pada umumnya dengan gaya bahasa yang tegas, padat dan berisi, dan mempunyai balaghah yang sangat tinggi;
• Setiap yang di dalamnya mengandung “sajdah” maka surat tersebut adalah bagian dari Makki; dan
• Setiap surat yang mengandung lafalk al la, berarti Makki. Lafal ini hanya terdapat dalam separuh terakhir dari Al qur‟an, dan disebutkan sebanyak tiga puluh tiga kali dalam lima belas surat.

Sedangkan dari segi tema dan gaya bahasa dapat diringkas sebagai berikut:
• Ajakan kepada tauhid dan beribadah hanya kepada Allah, pembuktian mengenai risalah, hari kebangkitan dan hari pembalasan, hari kiamat dan kengeriannya, neraka dan azabnya, surga dan nikmatnya, argumentasi terhadap orang musyrik dengan menggunakan bukti yang rasional dan ayat-ayat kauniyah.
• Peletakan dasar umum bagi perundang-undangan dan akhlaq mulia yang menjadi terbentuknya suatu masyarakat, dan penyingkapan dosa orang-orang musyrik dalam menumpahkan darah, memakan harta anak yatim secara zalim, penguburan bayi perempuan hidup-hidup dan tradisi buruk lainnya.
• Menyebutkan kisah para nabi dan umat-umat terdahulu sebagai pelajaran bagi mereka sehingga mengetahui nasib orang yang mendustakan perintah Allah sebelum mereka.
• Sebagai hiburan untuk Rasulullah dan para pengikutnya agar mereka tabah dalam menahan cobaan dan hinaan dari orang-orang kafir, dan untuk menambahkan keyakinan mereka bahwa Allah berada di pihak mereka.
• Suku katanya pendek disertai kata-kata yang mengesankan sekali, pernyataan singkat ditelinga terasa menembus dan terdengar sangat keras, menggetarkan hari dan maknanyapun meyakinkan dengan diperbuat dengan lafal-lafal sumpah.

C. Pengertian Madaniyah
Surat/Ayat Madaniyah adalah segala ayat yang turun di Madinah, ataupun yang turun di sekitar Madinah seperti Badar, Uhud, dan lain-lain. Madaniyah juga dapat diartikan segala ayat yang turun setelah Rasulullah hijrah sekalipun turunnya di Mekkah. Madaniyah segala ayat yang isi pembicaraannya ditujukan kepada penduduk Madinah dan sekitarnya.

D. Ciri – cirri Madaniyah
Sedangkan cirri-ciri Madaniah adalah sebagai berikut:
• Setiap ayat-ayat yang dimulai dengan يا ايها الذ ين ا منو adalah Madaniyah;
• Setiap ayat-ayat yang membicarakan soal hukum, fardhu, dan lain-lainya adalah Madaniyah;
• Suratnya panjang dengan gaya bahasa yang bersifat yuridis, panjang, dan lain-lain;
• Setiap surat yang berisi kewajiban atauh ad (sanksi) adalah Madani;
• Setiap surat yang di dalamnya disebutkan tentang orang munafiq adalah Madani kecuali surat Al Ankabut adalah Makki; dan
• Setiap surat yang didalamnya terdapat dialog dengan para ahli kitab adalah Madani.

Sedangkan dari segi tema dan gaya bahasa dapat diringkas sebagai berikut:
• Menjelaskan tata cara ibadah, mu‟amalah,had, kekeluargaan, warisan, jihad, kaidah hukum, masalah perundang-undangan dan hubungan sosial baik di waktu damai maupun saat perang.
• Seruan terhadap Ahli Kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani, dan ajakan kepada mereka untuk memeluk agama Islam, penjelasan mengenai penyimpangan mereka terhadap kitab-kitab Allah terdahulu, permusuhan mereka terhadap kebenaran dan perselisihan mereka setelah kebenaran datang kepada mereka karena rasa dengki diantara sesama mereka.
• Menyingkap perilaku orang-orang munafiq, menganalisis kejiwaan mereka, membuka kedoknya dan menjelaskan bahwa mereka berbahaya bagi agama.
• Suku kata dan ayat-ayatnya panjang dengan gaya bahasa yang memantapkan ketentuan syari‟at serta menjelaskan tujuan dan sasaran syari‟at tersebut.

E. Cara Menetapkan Makkiyah atau Madaniyah
Para ulama menentukan dan memutuskan bahwa suatu ayat atau surat disebut Makki dan Madani. Dan untuk mengetahui Makki dan madani para ulama bersandar pada dua cara utama yaitu:
1. Sima‟i Naqli
Cara ini didasarkan pada riwayat shahih dari para sahabat yang hidup pada saat dan menyaksikan turunnya wahyu, atau dari para tabi‟in yang mendengar dari para sahabat bagaimana, dimana dan peristiwa apa yang berkaitan dengan turunnya wahyu tersebut. Cara ini menjadi cara utama para ulama menentukan suatu ayat Al Qur‟an apakan termasuk dalam kategori Makkiah atau Madaniah.

2. Qiyas Ijtihadi
Cara ini didasarkan pada ciri-ciri dari Makki dan Madani, para ulama mengelompokkan ayat-ayat Makki dengan meneliti ciri dari ayat-ayat tersebut meskipun terdapat dalam surat Madani, begitu juga sebaliknya. Dan bila dalam suatu surat terdapat ciri-ciri Makki lebih dominan daripada Madani maka Surat tersebut secara qiyas ijtihadi disebut sebagai Surat Makki, begitu juga sebaliknya.
Sedikitnya ada empat landasan teori yang dikemukakan oleh para Ulama dalam menentukan kriteria untuk memisahkan bagian yang disebut Makki dan Madani, dan keempat teori tersebut memiliki dasarnya sendiri sebagai berikut:
1. Dari Tempat Turunnya (Mulãhazhatu Makãnin Nuzul)
Makki adalah ayat atau surat dalam Al Qur‟an yang diturunkan di Makkah dan sekitarnya, seperti Mina, arafah, dan Hudaibiyah. Dan Madani diturunkan di Madinah dan sekitarnya, seperti Uhud, Quba, dan Sil. Pendapat ini mengakibatkan tidak adanya pembagian secara konkrit, sebab ayat-ayat yang turun di perjalanan seperti di Baitul Maqdis atau Tabuk tidak termasuk dalam kedua kategori tempat turunnya sehingga ayat-ayat tersebut tidak dinamakan Makki dan tidak juga Madani.

2. Dari Sasaran Turunnya (Mulãhazhatu Mukhãtabiina Fin Nuzul)
Makki adalah ayat atau surat dalam Al Qur‟an yang seruannya ditujukan untuk penduduk Makkah dan Madani seruannya ditujukan untuk penduduk Madinah.

3. Dari Waktu Turunnya (Mulãhazhatu Zamãnin Nuzul)
Makki adalah ayat atau surat dalam Al Qur‟an yang diturunkan sebelum hijrah meskipun bukan di kota Makkah dan Madani diturunkan setelah hijrah meskipun diturunkan di Makkah atau bukan di kota Madinah, misalnya:
Artinya : “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.” (Al Maidah [5]: 3)

Dalam hadis shahih yang diriwayatkan oleh Umar RA., dijelaskan bahwa ayat tersebut di atas diturunkan pada malam Arafah hari jum‟at tahun haji Wada‟. Dan pendapat ini lebih baik dari dua pendapat sebelumnya karena lebih memberikan kepastian dan konsistensi. Kelebihan dari teori ini menurut para ulama adalah teori yang paling selamat, karena rumusan teori ini mencakup seluruh isi Al Qur‟an sebab semua surah/ayat dalam Al-Qur‟an kalau tidak turun sebelum hijrah pasti turun setelah hijran. Jadi tidak satupun surah/ayat Al Qur‟an yang terlepas dari rumusan teori ini.


4. Dari Isi yang Terkandung (Mulãhazhatu Mã Thadhammant Assurah)
Makki menurut teori ini ialah surah/ayat yang berisi cerita-cerita ummat dan para Nabi terdahulu, sedang Madani menurut teori ini adalah surah/ayat yang berisi hukum-hukum hudud, fara‟id dan sebagainya. Dalil yang dijadikan landasan teori ini ialah riwayat Hisyam dari ayahnya Al Hakim, sebagai berikut:
“Setiap surah yang di dalamnya disebutkan hukum-hukum, fara‟id adalah Madaniyah, dan setiap surah yang didalamnya disebutkan kejadian-kejadian masa lalu adalah Makkiyah.”
Kelebihan dari teori ini adalah kriterianya jelas, lebih mudah untuk dikenali sebab hanya dengan melihat tanda-tanda tertentu dalam surah/ayat sehingga lebih gampang untuk membedakannya.
F. Faedah Mengetahui Makkiyah dan Madaniyah
Diantara manfaat mengetahui surat Makkiyah dan Madaniyah adalah sebagai berikut:
1. Sebagai alat bantu dalam menafsirkan Al Qur‟an, sebab mengetahui tempat turunnya suatu ayat dapat membantu memahami ayat tersebut dan menafsirkannya dengan tafsiran yang benar, sekalipun yang menjadi pegangan adalah pengertian umum lafaz, bukan sebab yang khusus. Berdasarkan hal tersebut seorang penafsir dapat membedakan antara ayat yang nasikh dan mansukh, yakni bila diantara kedua ayat terdapat makna yang kontradiktif maka yang datang kemudian merupakan nasikh atas ayat yang terdahulu.
2. Pembeda antara nasikh (hukum yang menghapus) dengan mansukh (hukum yang dihapus). Seandainya terdapat dua ayat yaitu Madaniah dan Makkiah yang keduanya memenuhi syarat-syarat naskh (penghapusan) maka ayat Madaniah tersebut menjadi nasikh bagi ayat Makkiah karena ayat Madaniah datang belakangan setelah ayat Makkiah.

3. Mengambil istimbath dari gaya bahasa Al Qur‟an dalam berdakwah dan memanfaatkannya dalam metode berdakwah menuju jalan Allah SWT., sebab setiap situasi mempunyai bahasa sendiri. Memperhatikan apa yang dikehendaki oleh situasi merupakan arti paling khusus dalam ilmu retorika. Karakteristik gaya bahasa Makki dan Madani dalam Al Qur‟an memberikan kepada siapa saja yang membaca dan mempelajarinya sebuah metode penyampaian dakwah ke jalan Allah SWT., sesuai dengan kejiwaan lawan bicara dan menguasai pikiran dan perasaannya dengan penuh kebijaksanaan.
4. Mengetahui sejarah hidup Rasulullah melalui ayat-ayat Al Qur‟an, sebab turunnya wahyu kepada Rasulullah sejalan dengan sejarah dakwah dan segala peristiwa yang beliau hadapi saat itu, baik pada periode dakwah di Makkah mapun Madinah. Sejak permulaan turunnya wahyu hingga ayat terakhir, Al Qur‟an adalah sumber pokok bagiperi hidup Rasulullah, maka dari itu sejarah dakwah beliau yang diriwayatkan oleh para ahli sejarah harus sesuai dengan Al Qur‟an.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari uraian di atas, kami menyimpulkan:
1. Makkiyah adalah segala ayat yang turun di Mekkah dan di sekitarnya. Yang turun sebelum Rasulullah SAW hijrah, sekalipun turunnya di Madinah.
2. Madaniyah adalah segala ayat yang turun di Madinah dan di sekitarnya. Turun setelah Rasulullah SAW hijrah, sekalipun turunnya di Mekkah.
3. Cara mengetahui Makkiyah dan Madaniyah ada 2, yaitu: Sima’i Naqli dan Qiyas Ijtihad.

DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Rosihon. Ulum Al-Qur’an. Bandung: Pustaka Setia, 2008.
Hakim, Baqir, M. Ulum Al-Qur’an. Majma’ Al-Fikr Al-Islami, 2006.
www.scribd.com/doc/31768274/Makkiyah-dan-Madaniyah

Categories:

Leave a Reply

Text